Makalah : Perayaan Natal Bersama & Tahun Baru, Bagaimana Sikap Kita?

Perayaan Natal Bersama & Tahun Baru, Bagaimana Sikap Kita?[1]
Oleh : Saifuddin Zuhrie[2]
 

Sudah menjadi kebiasaan ketika pada tanggal 25 Desember yakni pada tanggal tersebut umat Kristen merayakan hari raya Natal. Kita umat Islam dihadapkan pada sebuah diskursus tentang bagaimana hukum seorang muslim yang menghadiri perayaan natal (baca: perayaan natal bersama) dan mengucapkan selamat kepada yang sedang merayakannya?. Setidaknya ada dua kubu yang berseberangan di dalam memandang masalah ini. Ada yang pro, dalam artian membolehkan seorang muslim mengikuti perayaan natal dan membolehkan untuk mengucapkan selamat kepada yang sedang merayakannya. Dan disisi lain ada yang kontra, dalam artian tidak boleh seorang muslim mengikuti perayaan natal dan tidak boleh juga mengucapkan selamat kepada yang sedang merayaknnya.
Selain Natal, perayaan Tahun Baru masehi juga perlu pendapat perhatian, mengingat dua event  ini terletak pada tanggal yang berdekatan, yakni 25 Desember dan 1 Januari. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita sebagai generasi muda muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan Rosul pengikut Muhammad terhadap perayaan Natal dan tahun baru ini?
1.      Sejarah  Natal.
Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran "Yesus". Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katholik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu ? Sebab Natal itu bukan ajaran Bibel (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katholik Roma pada abad ke-4 ini berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.
Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katholik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katholik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul : Christmas, kita akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut : "Christmas was not among the earliest festivals of Church...the first evidence of the feast is from EgyptPagan customs centering around the January calends gravitated to Christmas". Artinya : "Natal  bukanlah upacara Gereja yang pertama….melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus".

Perayaan Natal Bersama dan Menggucapkan Selamat Natal.
Perayaan Natal Bersama (PNB) sudah di haramkan oleh Majelis Ulama Indonesia pada tahun 1981.  Setidaknya ada 3 point dalam fatwa MUI tersebut. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.
Mengenai Hukum Mengucapkan Selamat Natal, beberapa ulama ada 2 pendapat; yakni ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan.
Yang membolehkan, yaitu Dr. Yusuf Qardhawi dan Musthafa Zarqa. Dengan alasaan sebagai berikut;
1) Firman Allah Swt.:
"لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم فى الدين و لم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم و تقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين"
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (al-Mumtahanah: 8).
2) Sikap Islam terhadap Ahlul Kitab lebih lunak daripada kepada kaum musyrikin;          
Para penyembah berhala. Bahkan al-Quran menghalalkan makanan serta perempuan (untuk dinikahi) dari Ahli Kitab (al-Maidah: 5). Dan salah satu konsekuensi pernikahan adalah menjaga perasaan pasangan, berikut keluarganya. (Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Aqalliyyât al-Muslimah, Dar el-Syuruq, cet II, 2005, hal 147-148). Apalagi hanya dengan bertukar ucapan “Selamat”.
3) Firman Allah Subhanahu Wata'ala:
"و إذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها"
"Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)." (al-Nisa: 86).
4) Pada satu riwayat, seorang Majusi mengucapkan salam kepada Ibnu Abbas "assalamualaikum", maka Ibnu Abbas menjawab "waalaikumussalam wa rahmatullah". Kemudian sebagian sahabatnya bertanya "dan rahmat Allah?", beliau menjawab: Apakah dengan mereka hidup bukan bukti rahmat Allah.[ Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Aqalliyyât al-Muslimah, Dar el-Syuruq, cet II, 2005, hal 147-148]
5) Pada masa kini, perayaan natal tak ubahnya adat-istiadat, perayaan masyarakat atau kenegaraan.[ Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Aqalliyyât al-Muslimah, Dar el-Syuruq, cet II, 2005, hal 147-148]
6) Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Sallallahu alaihi wassallam pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang dianut jenazah tersebut.
Sementara Ulama yang tidak membolehkan, yakni Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al-jauzi. Berikut alasannya;
·      Pertama, mau tidak mau permasalahan ini akan masuk ke dalam ranah akidah, karena perayaan natal bukanlah hal yg sembarangan dalam keyakinan kaum kristen. 25 Desember dalam keyakinan nasrani adalah hari 'lahirnya tuhan' atau 'lahirnya anak tuhan'. Maka tidak ada toleransi dalam akidah, bahkan AllahSubhanahu wata'ala. sudah secara jelas dan tegas meluruskan klaim ini (lihat surat al-Ikhlas: 3 atau al-Maidah: 72 & 116)
·      Kedua, Qiyas awla dari firman Allah; "إلا من أكره و قلبه مطمئن بالإيمان" "kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman" (al-Nahl: 106). Apakah jika kita tidak mengucapkan selamat, kita akan dibunuh?.
·      Ketiga, toleransi antar umat beragama tidak harus dengan mengucapkan "Merry Christmas", dengan berakhlakul karimah dan memperhatikan hak mereka sebagai manusia, tetangga, masyarakat, dan lainnya sudah cukup mewakili itikad baik kita untuk hidup damai, bersama mereka.
·      Keempat, Saddu al-Dzarî'ah, mencegah diri agar tidak terjerumus kepada hal yang dilarang.
Mengenai boleh atau tidaknya kita mengucapkan selamat natal kepada orang kristen yang menjalankannya, penulis memilih pendapat yang tidak boleh (mengharamkan) sebagaimana apa yang di jelaskan oleh ulama-ulama yang tidak membolehkan untuk mengucapkan selamat Natal.
Selain itu ada juga beberapa ayat dan hadist yang secara inlplisit agar kita mewaspadai millah agama Yahudi dan Nasrani.
·         Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “sesunggguhnya petunjuk Allah itu petunjuk yang sebenarnya.” Dam sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS – Al-Baqarah 120)
·         Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata:  “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
2.      Tahun Baru, dan Hedonisme
                Selain Natal yang sudah mentadi tren di akhir tahun dimana mal-mal, pusat perbelanjaan hingga tayangan di televisi yang berbau suasana natal, di akhir tahun ini perayaan tahun baru tidak kalah trennya. Di seluruh dunia pada malam akhir pergantian tahun tersebut muda-mudi, tua muda, remaja anak-anak melewatkan pergantian tahun di tempat-tempat rekreasi, alun –alun, konvoi kendaraan hingga memacetkan lalu lintas, dll. Sebagai kader muda Muhamamdiyah kita pun juga harus memandang dari sudut pandangan Al-Qur’an dan Sunnah.
Sejarah Tahun Baru Masehi
Secara historis-filosofis, penanggalan Masehi merupakan manivestasi keyakinan Yunani Kuno dan ajaran Kristen. E. Darmawan Abdullah dalam bukunya ‘Jam Hijriyah’ menjelaskan bahwa Tahun Masehi adalah  penanggalan yang bersumber pada tradisi orang Romawi. Dalam sejarahnya, penanggalan Romawi berawal dari penaanggalan yang dibuat oleh orang-orang Yunani kuno untuk menandai kelahiran dewa matahari.
Ketika kaisar Romawi memeluk agama Kristen, berarti keyakinan leluhurnya terhadap dewa matahari harus ditinggalkan dan menyembah Yesus Kristus sebagai tuhannya. Sejak saat itulah, penanggalan Masehi menetapkan hitungan tahun pertamanya pada hari kelahiran Isa Al-Masih, itulah penanggalan Masehi. Jadi, penanggalan Masehi adalah manivestasi keyakinan Kristen.
Seperti diketahui, nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi masih menggunakan nama-nama para dewa Yunani kuno. Terdapat 6 dari 12 nama-nama bulan yang menggunakan nama-nama dewa dan dewi sembahan mereka. Enam bulan pertama (Januari – Juni) adalah nama para dewa, bulan ke 7 dan ke 8 menggunakan nama raja mereka, sedangkan bulan ke 9 sampai ke 12, menggunakan nomor urut bilangan bulan.
E. Darmawan Abdullah menilai tidak dihapuskannya nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi oleh kaisar Romawi kala itu, adalah dalam rangka memperingati kebesaran bangsa Romawi, sehingga nama bulannya tetap eksis, abadi melayani sejarah kehidupan. Kaisar tidak ingin dunia tidak mengenal kebesaran bangsa Romawi.
Karena itu, tidak semestinya umat Islam perlu bergegap gempita menyambut pergantian tahun yang menyisakan hitungan hari ke depan. Hal itu tidak lain karena Masehi adalah manives keyakinan agama lain. Sementara Islam, melarang keras umatnya ikut-ikutan dalam perkara-perkara yang merupakan manives dari agama lain.
Perlu diketahui juga di sini, bahwa awalnya penanggalan Roma hanya berjumlah 10 bulan dalam setahunnya (Maret – Desember). Nah, seiring perjalan waktu dan terkuaknya ilmu astronomi yang menemukan bahwa setahun itu ada 12 bulan, maka di kemudian hari, bulan pun ditambah dua, yaitu Januari dan Februari, sehingga lengkaplah tahun Masehi menjadi 12 bulan.
Tidak berhenti di situ, pergantian nomor urut pun tidak bisa dihindari. Bulan Maret yang awalnya bulan pertama diganti dengan bulan Januari. Mengapa? Ya karena Januari adalah nama dewa Janus (penjaga gerbang). Jadi, tepat jika berada di awal tahun.  
Bagaimana kita bersikap?
                Secara akidah mengikuti perayaan tahun baru dengan cara hura-hura, foya-foya dan maksiat adalah tidak dibenarkan di dalam Ajaran Islam. Pergantian malam baru hendaknya kita manfaatkan diri untuk bermuhasabah dan mengintrospeksi diri. Bermuhasabah bermakna melakukan evaluasi dan bersikap kritis kepada diri sendiri, apa yang kurang dan tahun ke depan akan menjadi langkah perbaikan. Introspeksi diri  melakukan renungan tentang umur, harta, kesempatan, dan waktu yang ada. Untuk apa umur kita selama ini? Dari mana kita memperoleh harta dan ke mana harta tersebut kita keluarkan? Bagaimana kita memanfaatkan kesempatan yang ada? Dan dengan apa kita mengisi waktu hidup ini?.
                Nabi mengajarkan kepada kita untuk muhasabah lewat sabdanya; “Orang yang beruntung adalah orang yang menghisab dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. Turmudzi).
            Sungguh merugi jika dalam pergantian tahun banyak saudara-saudara kita melewatkan dengan hal-hal yang tiada berguna, plesir, berpacaran, berfoya-foya, berdugem dan menghambur-hamburkan uang untuk sekedar membunyikan petasan, kembang api, membeli terompet dll. Alangkah baikya jika uang yang kita tabung utk hari esok, dan kita ganti aktifitas yang lebih baik, seperti renungan, muhasabah, mabit, taruna melati dan lain-lain. Wallahu’alam bi showab.[3].




.: Penutup :.
Hadist tentang Islam datang dan berakhir dalam keadaan terasing.
Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing” (HR Muslim).




[1] Makalah ini di sajikan dalam Perkaderan Taruna Melati I Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Pare – Kab.Kediri, pada tanggal 25 Desember 2012
[2] Penulis saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maliki Malang, dan sedang mengemban amanah sebagai Sekretaris bidang PIP PW IPM Jawa Timur.
[3] Dari berbagai sumber.